Horizon Of Hope: Youth Mind Matters

Ditulis oleh Januari Pratama Nurratri T, Adiasri Putri Purbantina, Walda Okvi Juliana Ningsih, Anugrah Nurul H, Reisa Najma S, Khalista Noor, Angelina F, Vania Elita D

Surabaya, 4 Desember 2024 – Masa remaja merupakan masa di mana seorang individu mengalami peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang sangat cepat dalam diri manusia, sehingga mempengaruhi perubahan pada perkembangan fisik, mental, maupun peran sosial (Kumalasari, 2012). Rentang usia yang ditetapkan oleh WHO untuk kategori masa remaja adalah usia 10-19 tahun (WHO, n.d.). Seringkali masa remaja dikenal sebagai masa pencarian jati diri di mana ketika seseorang mulai memasuki usia remaja, berbagai permasalahan kompleks mulai muncul (Diyan & Asmuji, 2014). Berbagai permasalahan kompleks yang dialami remaja tersebut antara lain dapat berasal dari tekanan
dan tuntutan akademis, lingkungan sosial, perubahan hormon, permasalahan keluarga, bullying dan cyber bullying, masalah identitas diri, merasa tidak ada dukungan dari sekitar, dan permasalahan emosi. Sayangnya beragam permasalahan tersebut dapat menyebabkan para remaja untuk melakukan tindakan bunuh diri (BRIN, 2024). Hal tersebut dibuktikan dengan data yang menyebutkan bahwa dari data yang diakumulasikan pada tahun 2012-2023 disebutkan terdapat 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia, di antara jumlah tersebut sebanyak 985 atau sekitar 46,63% dilakukan oleh remaja (Alexander, 2023). Sehingga diperlukan upaya preventif untuk menanggulangi kasus ini.

Salah satu upaya preventif untuk mencegah tindakan bunuh diri pada remaja yang telah berhasil kami realisasikan adalah sosialisasi mengenai kesehatan mental, khususnya tentang cara mengelola emosi kepada remaja awal. Kegiatan bertemakan Horizon of Hope: Youth Mind Matter yang diselenggarakan kelompok 3 bertujuan untuk memberikan edukasi kepada para peserta sosialisasi terkait teknik pengelolaan emosi bagi remaja yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi. Sosialisasi ini dilaksanakan di SMPN 23 Surabaya, dengan target sasaran yaitu siswa-siswi kelas 7 yang berjumlahkan 60 orang. Pada sosialisasi ini kami melibatkan seorang mitra bernama Shania Febriana yang merupakan mahasiswa magister psikologi profesi Universitas Surabaya. Penyampaian materi bertemakan “Olah Mental: Pentingnya Kesehatan Mental Untuk Masa Depan” berhasil disampaikan oleh mitra secara interaktif dan mendapatkan respon positif dari para siswa. Seusai penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan pada sesi regulasi emosi yang dapat memberikan manfaat bagi siswa membentuk kemampuan emosional yang penting di masa depan. Interaksi tanya jawab antara siswa dan narasumber akan membentuk keterlibatan aktif sehingga siswa dapat berbagi pengalaman dan mendapatkan pemahaman dukungan bagaimana menghadapi sebuah masalah.


Kegiatan yang mengusung topik kesehatan mental ini bertujuan untuk merealisasikan indikator-indikator yang tercantum didalam SDGs diantaranya yaitu pada target SDGs 3.4.2 yang berfokus pada pengurangan angka kematian termasuk bunuh diri, dengan memberikan kontribusi nyata dalam mengedukasi remaja tentang pentingnya kesehatan mental. Melalui edukasi ini, siswa mampu memahami bagaimana mengembangkan keterampilan dalam menghadapi stress dan tantangan guna mencapai kualitas hidup yang sehat. Selain itu kegiatan ini juga memiliki relevansi dengan beberapa indikator SDGs lainnya diantaranya yaitu SDGs 4.7, SDGs 5.1, SDGs 10.2, SDGs 16.1, dan 16.2. Berdasarkan hal tersebut, melalui kegiatan ini diharapkan dapat mendukung upaya global dalam meminimalisir terjadinya diskriminasi serta menekan angka akibat kekerasan guna menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan inklusif bagi siswa.

Horizon of Hope: Youth Mind Matter berhasil menekankan pentingnya kesadaran mengenai kesehatan mental sejak usia remaja. Dengan memilih SMP Negeri 23 Surabaya sebagai lokasi penyuluhan, acara ini secara tepat menyasar kelompok remaja yang pernah mengalami tantangan terkait kesehatan mental. Lokasi yang tepat sasaran untuk mendukung kesehatan mental bagi anak-anak usia remaja, sehingga mereka dapat mengelola emosi, menyampaikan perasaan dan mengambil keputusan yang tepat dalam bertindak. Melalui edukasi yang diberikan, diharapkan tidak hanya memberikan dampak jangka pendek, tetapi juga menciptakan komitmen yang berkelanjutan di kalangan siswa, guru, dan pihak sekolah dalam mendukung kesehatan mental generasi muda, sehingga mereka mampu menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik di masa depan.

See more: https://www.youtube.com/watch?v=yfLVDGKohgc&t=40s

Referensi

Alexander, H. (2023, December 17). Ada 985 Kasus Bunuh Diri Remaja, Kesehatan Mental Penyebab Utama Halaman all – Kompas.com. Lestari. Retrieved December 5, 2024, from https://lestari.kompas.com/read/2023/12/17/162703186/ada-985-kasus-bunuh-diri-remaja-kesehatan-mental-penyebab-utama?page=all
BRIN. (2024, July 27). Kasus Bunuh Diri Tertinggi di Usia Muda, Apa Penyebabnya? BRIN. Retrieved December 5, 2024, from https://brin.go.id/news/119871/kasus-bunuh-diri-tertinggi-di-usia-muda-apa-
penyebabnya
Diyan, I., & Asmuji. (2014). Buku Ajar Keperawatan Maternitas: Upaya Provontif dan Preventif dalam Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Kumalasari. (2012). Pembagian Remaja. Jakarta: Salemba Medika.
WHO. (n.d.). Adolescent health – SEARO. World Health Organization (WHO). Retrieved December 5, 2024, from https://www.who.int/southeastasia/health-topics/adolescent-health

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *