Ditulis oleh Walda Okvi Juliana Ningsih, Adiasri Putri Purbantina, Januari Pratama Nurratri T, Zahra Pribadi Ayuningtyas, Amelia Putri Ramadhani, Febi Diah Ayuningtiyas, Letta Frinzky Novanda, Siti Binik Rusmiati
Surabaya, 22 November 2024 – Sosialisasi bahaya Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) pada remaja merupakan salah satu upaya signifikan yang dapat dilakukan dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3 dan 5. Pada poin ke-3 menargetkan jaminan kehidupan yang sehat dan peningkatan kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Sedangkan pada poin ke-5 memiliki target mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan. PCOS merupakan gangguan hormon yang terjadi pada wanita di usia subur. Apabila gangguan ini diabaikan maka akan menimbulkan risiko terjadinya kanker endometrium, diabetes melitus, dislipidemia, hingga penyakit kardiovaskular. Sehingga pentingnya memberdayakan remaja perempuan dalam pemahaman bahaya serta gejala yang ditimbulkan akibat PCOS merupakan tujuan utama dilaksanakannya kegiatan sosialisasi ini. Dengan target utama remaja perempuan, diharapkan kegiatan ini mampu memberikan kesadaran bahaya PCOS serta meminimalisir dampak yang ditimbulkan di masa yang akan datang. Sesuai dengan SDGs poin ke-3 dan 5, kegiatan sosialisasi ini ditujukan agar mampu menjadi permulaan dalam mencapai pembangunan berkelanjutan pada sektor kesehatan dan kesetaraan gender.
Di Indonesia, diidentifikasi sebanyak 105 pasien mengalami gangguan PCOS berdasarkan sebuah studi di RS Cipto Mangunkusumo. Mayoritas dari pasien tersebut, ditemukan sebanyak 45,7% berada dalam rentang usia 26-30 tahun. Pasien dengan gangguan PCOS dapat mengalami infertilitas, gangguan toleransi glukosa, depresi, dan obstructive sleep apnea (OSA). Berdasarkan Konsensus Penanganan Infertilitas oleh Himpunan Endokrinologi Reproduksi dan Fertilitas Indonesia (HIFERI), diperkirakan persentase perempuan usia 15-49 tahun yang mengalami infertilitas primer di Indonesia sebesar 2,5%.Pada kegiatan Sosialisasi Bahaya PCOS Terhadap Remaja, yang telah dilaksanakan pada tanggal 22 November 2024 di Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Kota Surabaya. Target peserta kegiatan ini adalah siswi yang berjumlah 30 anak. Sosialisasi ini didukung oleh Maharaya Event Organizer sebagai sponsor utama. Pada kegiatan ini, juga turut mengundang Bidan Desak Putu Lita Anggraeni, Amd.Keb sebagai narasumber utama untuk memberikan materi bahaya PCOS pada remaja. Terdapat dua materi yang diberikan kepada peserta kegiatan ini.

Materi pertama merupakan pengenalan tentang SDGs yang disampaikan oleh narasumber pertama yakni salah satu rekan kelompok 1, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi utama yang membahas tentang bahaya gangguan PCOS terhadap remaja perempuan dan disampaikan oleh narasumber utama yakni Bidan Desak Putu Lita Anggraeni, Amd.Keb. Selama pemaparan materi berlangsung, baik yang disampaikan oleh narasumber pertama maupun kedua peserta sangat antusias memperhatikan. Antusias mereka meningkat pada saat Bidan Lita menjelaskan tentang bahayanya gangguan PCOS. Para peserta juga aktif dalam sesi tanya jawab oleh narasumber. Kegiatan ini semakin hangat ketika sesi games yang
diberikan oleh kelompok kami, kemudian dilanjutkan dengan review materi yang telah disampaikan oleh narasumber. Review materi dilakukan oleh peserta sebagai bentuk respon balik pemahaman yang diperoleh oleh peserta selama pemaparan berakhir. Sebelum mengakhiri kegiatan, peserta juga diberikan tablet tambah darah untuk menunjang fase tumbuh kembang pada remaja. Kegiatan ini ditutup dengan sesi foto bersama dengan peserta maupun bapak ibu guru pendamping.
Pada pengenalan SDGs pemateri menjelaskan terkait apa itu Sustainable Development Goals dan mengapa SDGs perlu diratifikasi dalam kehidupan bermasyarakat. Pemateri juga menjelaskan bagaimana SDGs poin ke-3 dan 5 berkaitan dengan sosialisasi ini. Pada poin 3 yaitu, good health and well-being menjelaskan bagaimana kesehatan dan kesejahteraan masyarakat merupakan sebuah goals yang perlu diperhatikan oleh setiap orang. Berdasarkan materi, narasumber menjelaskan terkait dengan indikator 3.7 yaitu, universal accsess to sexsual and reproductive care, family planning and education. Berdasarkan indikator tersebut kesehatan reproduksi pada remaja lah yang menjadi perhatian dari pihak penyelenggara. Selanjutnya pada poin 5 yaitu gender equality. Pada poin ini narasumber menjelaskan
berdasarkan indikator 5.6 yaitu, universal access to reproductive health and right. Berlandaskan dengan kedua poin tersebut, kegiatan sosialisasi yang telah dilakukan ini merupakan bentuk implementasi dari kemudahan dalam akses informasi kesehatan khususnya reproduksi.
Pada kegiatan ini juga memenuhi SDGs pada poin ke-10 dan poin 11. Poin 10 reduced inequality dan poin 11 yang membahas sustainable cities and communities, keduanya sama-sama memiliki tujuan untuk mengurangi ketimpangan dan menciptakan kota dan komunitas yang inklusif dan sama-sama mendukung terbentuknya kesejahteraan masyarakat. Pada poin ke-10 lebih memperhatikan bagaimana adanya ketimpangan pada aspek kesetaraan gender, yang dimana sosialisasi terhadap kesehatan reproduksi wanita selalu dianggap sebagai hal yang tabu dan tidak baik untuk dibicarakan. Sedangkan pada poin 11 menjelaskan bagaimana pemberdayaan wanita itu penting dalam membangun ketahanan sosial melalui rumah tangga. Hal ini kemudian mampu melihat bahwa wanita juga memiliki peran besar dalam kehidupan sosial masyarakat. Dengan ini, kegiatan sosialisasi PCOS merupakan bagian dari implementasi SDGs dalam kehidupan bermasyarakat. Memberikan edukasi dalam bidang kesehatan reproduksi sebagai upaya membangun komunitas yang inklusif dan masyarakat sejahtera.
See more: https://www.youtube.com/watch?v=kH8DsWf8ZLo ; Booklet Sosialisasi Bahaya PCOS Terhadap Remaja
