Ditulis oleh Lil Yan Hidayah, Alifia Alya Wulandari, Mochammad Iqbal Hanafi, Talitha Yamilla Cahyadi, Muhammad Charis Akmaluddin
Kesehatan global menjadi insiden global yang menjadi tantangan masyarakat dunia. Menurut WHO, kasus DBD melonjak hingga lima juta kasus dengan lebih dari 5000 juma kematian pada tahun 2023. Di Indonesia, kasus DBD sendiri juga tergolong cukup tinggi. Wilayah Jawa Timur menjadi area yang rentan terkena demam berdarah dengue sejak tahun 2018 hingga 2023. Pada tahun 2024 sendiri kasus DBD di Jawa Timur tergolong cukup tinggi 210.644 kasus dengan 1.239 kematian akibat DBD yang terjadi di 259 kabupaten/kota di 32 provinsi, dan mengalami perluasan, yaitu mencapai 482 kabupaten/kota (Kemenkes, 2024).
Upaya pemerintah dalam pencegahan penyebaran kasus DBD diwujudkan melalui kebersihan sanitasi air rumah tangga penduduk, karena demam berdarah disebabkan karena adanya air kotor yang tergenang dan berpotensi menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk. Praktik kebersihan air dan sanitasi di Indonesia menjadi acuan dalam menghadapi permasalahan kesehatan demam berdarah dengue. Indikator kelayakan rumah tangga juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2022, persentasenya sebesar 91,05%, naik menjadi 91,72% di 2023. Pada 2024, proporsinya kembali meningkat menjadi 92,64% (GodStats, 2024).
Kesejahteraan masyarakat di indonesia juga mencakup usia lansia yang terdapat di indonesia, dimana di indonesia sendiri jumlah lansia juga tergolong cukup banyak. Dilihat dari segi demografi, jumlah penduduk lansia perempuan (52,28%) lebih banyak daripada penduduk lansia laki-laki (47,72%). Namun, jumlah penduduk lansia muda yang berumur 60-69 tahun memiliki jumlah paling besar, yaitu sekitar 63,59%. Sebagian besar para lansia tinggal di wilayah perkotaan (BPS, 2023). Dua indikator yang menggambarkan kesehatan lansia secara umum adalah persentase lansia yang mengalami keluhan kesehatan dan angka kesakitan lansia. Semakin rendah angka kesakitan, mengindikasikan derajat kesehatan penduduk wilayah tersebut yang semakin membaik, begitu pula sebaliknya.
Kesehatan ibu dan anak juga tergolong dalam tujuan Sustainable Development Goals, dimana kesehatan dan anak juga penting untuk diperhatikan untuk mencapai pertumbuhan penduduk yang lebih baik. Di provinsi Jawa Timur, angka kematian ibu dan bayi masih tergolong cukup banyak. Tiga daerah dengan jumlah kematian ibu tertinggi adalah Kabupaten Jember, Kabupaten Banyuwangi, dan Kabupaten Sidoarjo. Dugaan penyebab kematian ibu terbanyak pada tahun 2024 di Provinsi Jawa Timur adalah komplikasi non-obstetrik (43,5%), hipertensi dalam kehamilan, persalinan, dan nifas (20,9%), serta perdarahan obstetrik (16,4%). Kota Madiun merupakan satu-satunya kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur yang tidak mencatatkan kasus kematian ibu (Dinkes Jatim, 2024).
Pada tahun 2024, jumlah kematian bayi di Jawa Timur tercatat sebanyak 3.754 kasus. Tiga kabupaten dengan jumlah kematian tertinggi adalah Kabupaten Malang (345 kasus), Kabupaten Jember (325 kasus), dan Kabupaten Probolinggo (240 kasus). Kasus penolakan domisili juga masih ditemukan pada kematian bayi di tahun tersebut. Tiga penyebab kematian bayi terbanyak pada tahun 2024 adalah gangguan sistem pernapasan dan kardiovaskular, berat badan lahir rendah (BBLR) dan prematuritas, serta infeksi (Dinkes Jatim, 2024).
Urban Health Harmony: Aksi Sehat untuk Kota Kita merupakan inisiatif kolaboratif antara mahasiswa Hubungan Internasional dengan Kader Surabaya Hebat (KSH). Kegiatan utama meliputi pendampingan Posyandu Keluarga (Posga) untuk layanan kesehatan primer seperti pemeriksaan gizi balita, antenatal ibu hamil, dan skrining lansia serta sosialisasi dan pemantauan jentik nyamuk melalui program Jumantik di RW 10 Kelurahan Pacar Kembang, Surabaya. Dilaksanakan menjelang musim hujan November 2025, project ini bertujuan memutus rantai penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) yang melonjak akibat faktor urban seperti genangan air dan sampah menumpuk. Analisis hubungan project ini dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang diacu yaitu SDG 3 (Kesehatan Baik dan Kesejahteraan), SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak untuk Semua), serta SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) menunjukkan kontribusi langsung terhadap pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal.
After Movie Urban Health Harmony Collaboration with Kader Surabaya Hebat
Pertama, project ini selaras erat dengan SDG 3, karena Mahasiswa Bersama dengan KSH melakukan program Sosialisasi 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur Ulang) dan pemantauan
jentik nyamuk di sekitar rumah warga RW 10 Kelurahan Pacar Kembang, Surabaya bertujuan mengurangi kasus DBD. Sementara itu, pendampingan Posga antara KSH, Tenaga Kesehatan, dan Mahasiswa mendukung deteksi dini terhadap masalah Kesehatan yang dialami warga, mulai dari balita hingga lansia. Kolaborasi dengan KSH memperkuat ketahanan keluarga terhadap ancaman Kesehatan, Dimana diwujudkan dengan antusiasme warga sekitar dalam mendukung project ini.
Kedua, keterkaitan dengan SDG 6 terlihat pada upaya pengelolaan air dan sanitasi untuk mencegah perkembangbiakan Aedes aegypti. Genangan air akibat drainase tersumbat, genangan air hujan di beton tiang bendera, maupun genangan air didalam rumah menjadi fokus Jumantik, di mana KSH dan Mahasiswa secara gotong royong membersihkan wadah air terbuka dan mempromosikan budaya lingkungan bersih terhadap warga sekitar RW 10 Kelurahan Pacar Kembang. Output seperti pembentukan kelompok pengawas lingkungan dan inisiatif drainase berkelanjutan diharapkan mengurangi sarang nyamuk selama musim penghujan, mendukung target SDG 6 untuk akses air bersih yang aman dan pengelolaan limbah rumah tangga. Ini bukan hanya pencegahan DBD, tapi juga kontribusi jangka panjang terhadap sanitasi urban di Surabaya, yang sering terdampak banjir musiman.
Ketiga, project ini memperkuat SDG 11 melalui pembangunan komunitas inklusif dan tangguh. Dengan melibatkan seluruh keluarga dari balita hingga lansia, serta kader sebagai fasilitator, kegiatan membangun solidaritas RW melalui edukasi holistik dan kolaborasi lintas sektor. Dampaknya mencakup peningkatan partisipasi masyarakat hingga 30-50%, memperkaya program KSH seperti Jambore 2025 dan aplikasi Sayang Warga. Ini mewujudkan visi kota sehat yang ramah lingkungan, dengan gotong royong sebagai pondasi ketahanan sosial-ekonomi, serta ekspansi ke RW lain untuk inklusivitas urban.
Secara keseluruhan, Urban Health Harmony bukan sekadar aksi sementara, melainkan katalisator sinergi SDGs 3, 6, dan 11. Dengan target penurunan potensi DBD dan peningkatan kualitas layanan kesehatan, project ini memberikan dampak nyata bagi masyarakat Surabaya, sekaligus melatih mahasiswa dalam isu global lokal.
Referensi
BPS. (2023). STATISTIK PENDUDUK LANJUT USIA 2023.
BPS. (2024). PROFIL KESEHATAN IBU DAN ANAK 2024 (Vol. 10). bps.go.id.
Dinas Kesehatan Jatim. (2024). PROFIL KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR 2024.
GoodStats. (2023, November 8). 7 Provinsi dengan Produksi Air Bersih Terbanyak.
GoodStats. (2024). Sumber Air Minum Bersih di Indonesia Terus Meningkat.
UN SDGs. (2025). Ensure healthy lives and promote well-being for all at all ages.
WHO. (2023). Dengue – Global situation.
Widiyana, E. (2025). 231 Warga Surabaya Terserang DBD Sepanjang 2024, Meningkat 20 PersenĀ . Detik.Com.
