Ditulis oleh Walda Okvi Juliana Ningsih, Januari Pratama Nurratri T, Adiasri Putri Purbantina, Salsabillah Fitri, Charynda Levana, Hadzianti Fitri Wulandari, Agatha Eclesia, Sonia Icha.
Kesetaraan gender merupakan fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan dan berkaitan dengan keadilan bagi semua manusia, termasuk dalam dunia pendidikan yang menuntut kesempatan yang sama bagi setiap siswa tanpa dibatasi stereotip. Pemahaman ini perlu ditanamkan sejak remaja karena pada tahap tersebut mereka tengah membentuk identitas, pola pikir, dan sikap sosial. Namun, bias gender masih sering muncul di lingkungan sekolah, seperti pembagian peran berdasarkan stereotip atau tugas yang tidak merata, dan hasil angket di beberapa sekolah termasuk SMPN 32 Surabaya menunjukkan bahwa pemahaman siswa mengenai isu ini masih belum utuh. Oleh sebab itu, sosialisasi ini dilakukan untuk memperluas wawasan siswa agar mampu mengenali serta menghindari bias gender dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.



Proyek Setara Bukan Sekadar Kata direalisasikan di SMP Negeri 32 Surabaya yang berlokasi di Jl. Ahmad Yani No. 6, RW. 8, Wonokromo, Kec. Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 14 November 2025 pada pukul 07.30–09.05 WIB. Proyek ini secara khusus berfokus pada isu kesetaraan gender di kalangan remaja, dengan menekankan pentingnya memberikan pemahaman bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak, kesempatan, dan ruang partisipasi yang sama dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun terkait dengan SDGs 5, proyek ini tidak membahas keseluruhan ruang lingkup tujuan tersebut, melainkan berfokus fokus pada target 5.1 untuk mengakhiri segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan di mana pun dengan contoh pada upaya mengurangi bias, stereotip, dan perlakuan tidak adil berbasis gender baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Melalui sosialisasi ini, peserta diarahkan untuk menyadari perilaku atau anggapan yang dapat memicu ketidaksetaraan, serta didorong untuk membangun relasi yang lebih setara, saling menghargai, dan bebas diskriminasi. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan pola pikir yang lebih kritis dan inklusif mengenai kesetaraan gender pada remaja.
Ibu Prita Yulia Maharani, M.Psi., Psikolog seorang psikolog klinis dan seksolog yang kini bekerja sebagai expert di PT Riliv Psikologi Indonesia dan psikolog lepas di YPPI menyampaikan pentingnya SDGs poin 5 tentang kesetaraan gender dengan menyoroti masih kuatnya perbedaan perlakuan berdasarkan gender di sekolah maupun di rumah serta dampaknya terhadap perkembangan anak. Beliau menekankan bahwa bias gender dapat dicegah melalui edukasi yang tepat, komunikasi keluarga yang terbuka, dan pembiasaan sikap saling menghargai sejak dini, sementara ketidaksetaraan dapat dihadapi dengan membangun kesadaran diri, keberanian untuk menyuarakan pendapat, dan dukungan dari lingkungan terdekat.
Kegiatan dimulai dengan sesi pembukaan yang berisi sambutan dari ketua kelompok serta perkenalan, kemudian dilanjutkan dengan ice breaking yang dipimpin oleh Bu Prita selaku psikolog untuk mencairkan suasana dan membangun antusiasme siswa. Setelah itu, peserta menerima pemaparan materi mengenai Membangun Kesadaran Kesetaraan Gender melalui Pendidikan Remaja. Kegiatan berlanjut dengan Heartspace Session sebagai ruang refleksi dan interaksi mendalam, termasuk sesi konsultasi di mana salah satu pengalaman siswa dibahas lebih jauh untuk menemukan strategi menghadapi tantangan gender dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, diadakan sesi awarding sebagai bentuk apresiasi bagi peserta yang aktif, dan kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi.

Dari pelaksanaan proyek Setara Bukan Sekadar Kata di SMPN 32 Surabaya, edukasi kesetaraan gender dapat diperkuat melalui peran guru BK dan OSIS. Guru BK dapat memberikan pendampingan langsung kepada siswa dengan menyisipkan materi tentang bias gender, membuka sesi diskusi, atau melakukan konseling tematik agar siswa memahami pentingnya sikap setara dan bebas stereotip. Sementara itu, OSIS dapat turut mendukung dengan membuat kampanye sederhana melalui media sosial sekolah, seperti unggahan infografis, kuis, atau konten edukatif lainnya untuk meningkatkan kesadaran siswa terkait isu kesetaraan gender.
