Ditulis oleh Adiasri Putri Purbantina, Walda Okvi Juliana Ningsih, Januari Pratama Nurratri T, Yaasiinta Fajar Wulandari, Selvi Nur Islamiyah, Kayla Agistya Azzahra, Khairunnisa Malihah Nabila Putri, Aria Kamajaya
Surabaya, 7 Desember 2024 – Kekerasan Berbasis Gender Online atau KBGO merupakan sebuah tindakan yang membuat individu merasa tidak aman, Tindakan ini merujuk dan menyerang gender atau seksualitas seseorang dan difasilitasi oleh internet dan juga teknologi. Masih ditemukan diantara masyarakat yang belum paham terkait dengan bentuk kekerasan yang menyerang identitas gender pada ranah digital. Kekerasan KBGO tersebut meliputi sexual harassment atau pelecehan seksual, penguntitan (stalking), bullying atau penindasan, pencemaran nama baik (defamation), exploitation atau eksploitasi, ujaran kebencian (hate speech), serta gender trolling. Tindakan KBGO yang terjadi memiliki dampak yang merugikan korban dibandingkan dengan kekerasan yang terjadi di dunia nyata. Kerugiannya meliputi kerugian yang dirasakan secara fisik, psikologis, sosial, ekonomi serta fungsional.
Kasus kekerasan ini masih muncul di Indonesia, pada catatan Tahunan sepanjang 2020, Komnas Perempuan menyatakan terdapat jumlah kasus KBGO dengan peningkatan yakni sebanyak 510 kasus dari tahun sebelumnya yang berjumlah 126 kasus. Selanjutnya ditemukan pada tahun 2021 terdapat 756 murid sekolah menengah atas/SMA yang melaporkan kejadian tindakan KBGO. menurut laporan hasil pemantauan SAFEnet menghasilkan selama periode Januari-Maret 2024 kasus KBGO meningkat dengan jumlah aduan yang diterima terdapat 480 aduan.

Sosialisasi di SMPN 17 Surabaya memiliki tujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya kesetaraan gender dan pencegahan kekerasan yang berbasis gender. Kegiatan ini dilakukan dengan menghadirkan pembicara dari Girl Up cabang Universitas Pembangunan Veteran Jawa Timur, sebuah komunitas global yang menekankan pemberdayaan wanita dan kesetaraan gender. Dalam sosialisasi ini, siswa terlibat dalam penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, dan penggunaan media edukasi untuk memperkenalkan masalah seperti diskriminasi terhadap wanita, kekerasan baik fisik maupun psikologis, serta pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif.
Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) Nomor 5, yang menekankan kesetaraan gender, terutama pada target 5.2 yang bertujuan untuk menghapus seluruh bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, baik di ruang publik maupun pribadi. Sosialisasi ini mendukung pencapaian indikator untuk target 5.2 dengan memberikan siswa keterampilan untuk mengenali dan mencegah kekerasan yang berkaitan dengan gender di lingkungan mereka. Dengan bimbingan dari Girl Up, siswa juga didorong untuk berani mengekspresikan diri, terutama bagi perempuan, dalam melawan diskriminasi atau kekerasan. Kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan generasi muda yang peka terhadap pentingnya kesetaraan gender, sekaligus menjadikan SMPN 17 Surabaya sebagai penggerak sekolah yang mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan.
Sosialisasi di SMPN 17 Surabaya dilakukan pada 4 Desember 2024, dimulai pukul WIB, dengan menghadirkan narasumber dari Girl Up cabang UniversitasPembangunan Veteran Jawa Timur. Kegiatan ini berfokus pada tema Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), yang merupakan salah satu jenis kekerasan yang sering muncul di era digital. Proses sosialisasi dimulai dengan penjelasan tentang apa itu KBGO, di mana siswa diajak untuk memahami bahwa kekerasan berbasis gender tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga dapat terjadi di dunia maya melalui tindakan seperti perundungan, pelecehan, atau penyebaran konten pribadi tanpa izin. Kemudian, narasumber menjelaskan berbagai bentuk KBGO, seperti pelecehan seksual di media sosial, ancaman atau intimidasi secara online, hingga eksploitasi data pribadi.
