Ditulis oleh Januari Pratama Nurratri T, Walda Okvi Juliana Ningsih, Adiasri Putri Purbantina, Rimby Nadziroh, Caren Ade Putri, Adinda Mutia A. R., Amanda Febrianty, Athiyyah Nadhifa Zahrah
Surabaya, 30 November 2025 – Dalam SDGs indikator 2.2, dijelaskan bahwa segala nutrisi yang masuk ke dalam tubuh bayi selayaknya diperhatikan untuk mencegah malnutrisi. Selain pemberian ASI, pemberian MP-ASI cenderung menjadi tantangan. Indonesia menduduki peringkat 67 dari 127 dalam Indeks Kelaparan Global 2024, dengan lebih dari 21% balita stunting (World Food Programme, 2025). Data e-PPGBM menunjukkan prevalensi stunting di Sidoarjo mencapai 4.986 balita pada Februari 2023 dan 5.026 balita pada Agustus 2023. Di pedesaan, banyak balita yang masih diberi MP-ASI dengan gizi tidak seimbang (Millati, 2025). Maka, edukasi selayaknya dilakukan guna menjamin kesejahteraan ibu dan anak.
Melalui urgensi tersebut, kami mengadakan “MP3S: Makanan Pendamping Sehat, Sedap, Sederhana” pada 6 November 2025 di Balai RW 06 Tropodo, Sidoarjo. Edukasi ini dilakukan untuk mendorong target SDGs 2.2 yang bertujuan mengakhiri malnutrisi. Target audiens adalah warga Tropodo, terutama ibu-ibu, ibu baru, dan ibu hamil. Dalam program ini, kami dibersamai oleh Kader Posyandu RW 06. Kami juga mengundang Ibu Alvia Hikmawati, S.K.M., M.Kes dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), serta Ibu Muslimaturrahma dari Cerita Sehat Indonesia yang memberikan konsultasi bagi peserta.
Foto Pelaksanaan Kegiatan MP3S
Kegiatan edukasi MP3S dilaksanakan melalui beberapa tahap, yaitu registrasi dan pembagian booklet MP-ASI, pemeriksaan kesehatan berupa penimbangan berat dan tinggi badan, pengukuran lingkar lengan balita, serta pengecekan tensi dan konsultasi kesehatan lansia. Data kesehatan dicatat untuk pemantauan Posyandu. Kegiatan ditutup dengan konsultasi bersama AIMI dan Cerita Sehat Indonesia, yang menunjukkan masih adanya orang tua yang kurang memahami pentingnya MP-ASI bagi anak. Selama acara berlangsung, baik mitra, Kader, serta mahasiswa bekerjasama dengan baik. Pihak mitra memberikan skor 30 dari 30 dalam form penilaian program. Namun terdapat kendala seperti flow peserta yang lonjakannya tidak terprediksi karena mengikuti waktu yang dikondisikan Posyandu. Kendala selanjutnya berada pada sesi konsultasi anak yang hanya diikuti oleh beberapa peserta, keterbatasan waktu, hingga kurangnya pengetahuan kondisi anak karena mereka didampingi kerabat, bukannya orang tua.
Foto Bersama Narasumber dan Kader Posyandu
Berkurangnya angka stunting di Kabupaten Sidoarjo sebanyak 2,4 persen pada 2023 juga harus diikuti oleh beberapa kebijakan pemerintah yang menjamin hal ini secara jangka panjang (Diskominfo Kabupaten Sidoarjo, 2023). Kelompok kami memberikan beberapa saran guna menanggulangi adanya risiko masalah gizi balita: (1) Partisipasi masyarakat harusnya diperkuat, terutama pada kepengurusan posyandu yang kurang mendorong partisipasi anak muda (2) Kebijakan pemerintah seharusnya mampu menekankan pentingnya tidak hanya Posyandu, tetapi juga Posyandu Keluarga sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang aksesibel bagi masyarakat.
Referensi
Diskominfo Kabupaten Sidoarjo. (2023, November 8). Kasus Stunting di Sidoarjo Turun 2,4 Persen. Kabupaten Sidoarjo.
Millati, F. A. (2025). Pemberdayaan Kader dan Edukasi Penyediaan MP ASI Berbahan Dasar Pangan Lokal di Desa Jedongcangkring Sidoarjo. LPPM UNUSA.
World Food Programme. (2025). Indonesia | World Food Programme. WFP.
