Surabaya, 7 Oktober 2026 — Program Studi Hubungan Internasional menyelenggarakan kegiatan kuliah tamu dalam kelas Gender dan Seksualitas dalam Politik Global bertajuk “Gender dan Media” pada Rabu, 7 Oktober 2026, pukul 12.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini menghadirkan Hanaa Septiana, koresponden Tempo yang memiliki pengalaman jurnalistik di detik.com, alumni Short Course Australia Awards Indonesia, sekaligus pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
Kuliah tamu ini bertujuan untuk memperluas pemahaman mahasiswa mengenai relasi gender dan media, khususnya bagaimana perspektif gender memengaruhi proses produksi berita, pemilihan narasumber, serta representasi perempuan dalam pemberitaan. Melalui pengalaman langsung narasumber di dunia jurnalistik, mahasiswa diajak memahami berbagai tantangan dalam mewujudkan praktik media yang lebih sensitif dan responsif gender.
Dalam pemaparannya, Hanaa Septiana membagikan pengalamannya sebagai jurnalis dalam meliput berbagai isu yang sensitif gender. Ia menjelaskan bahwa proses peliputan tidak terlepas dari tantangan profesional maupun personal, termasuk risiko mengalami kekerasan seksual di lingkungan kerja. Pengalaman tersebut juga dapat terjadi ketika jurnalis berinteraksi dengan narasumber atau responden selama menjalankan tugas peliputan. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan gender dalam dunia jurnalistik tidak hanya berkaitan dengan isi pemberitaan, tetapi juga dengan keamanan dan perlindungan jurnalis dalam menjalankan profesinya.
Lebih lanjut, Hanaa menyoroti karakter media arus utama di Indonesia yang masih cenderung maskulin. Kondisi tersebut dapat memengaruhi sudut pandang pemberitaan dan cara perempuan direpresentasikan dalam media. Perempuan kerap ditempatkan dalam posisi sebagai korban, sementara pengalaman, perspektif, dan kapasitas mereka sebagai individu yang memiliki agensi belum selalu mendapatkan ruang yang memadai.
Persoalan bias gender juga terlihat dalam pemilihan narasumber, terutama ketika media membahas isu-isu yang membutuhkan kepakaran tertentu. Menurut Hanaa, pemilihan narasumber yang belum mempertimbangkan keberagaman gender berpotensi memperkuat dominasi perspektif tertentu dalam pemberitaan. Akibatnya, suara dan pengetahuan perempuan berisiko kurang terwakili dalam diskursus publik, termasuk dalam isu-isu yang sebenarnya berkaitan erat dengan kehidupan mereka.
Pemaparan tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat media bukan sekadar sebagai saluran penyampaian informasi, melainkan juga sebagai institusi yang berperan dalam membentuk pemahaman masyarakat mengenai gender. Pilihan kata, sudut pandang berita, penentuan narasumber, dan representasi kelompok tertentu merupakan bagian dari praktik jurnalistik yang dapat mereproduksi maupun menantang ketimpangan gender.
Kegiatan ini diikuti oleh 51 mahasiswa peserta kelas Gender dan Seksualitas dalam Politik Global dan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang berlangsung hangat. Mahasiswa berkesempatan mendalami berbagai persoalan yang dihadapi jurnalis dalam praktik peliputan, sekaligus mendiskusikan pentingnya perspektif gender dalam menghasilkan pemberitaan yang adil, berimbang, dan tidak diskriminatif.
Melalui kegiatan kuliah tamu ini, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan pemikiran kritis terhadap praktik representasi gender di media serta memahami pentingnya jurnalisme yang sensitif gender. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pembelajaran untuk menghubungkan konsep-konsep gender dan seksualitas dalam politik global dengan dinamika nyata di masyarakat, khususnya dalam praktik media dan produksi pengetahuan publik.
